Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 Juli 2012

Program Persiapan Menyambut Ramadhan 1433H

“Ya Allah, pertemukan kami dengan Ramadhan. Bantulah kami Ya Allah untuk menunaikan ibadah puasa dengan sebaik-baiknya dan melakukan Qiyamullail pada malamnya. Ya Allah, terimalah segala amalan kami ini. Amin”
Ya Allah … dengan ijinMu… sebentar lagi bulan Ramadhan akan segera menjelang, saya memohon dan berharap Engkau merelakanku untuk bersiap-siap menyambutnya. Saya memohon Engkau akan memberikan kesempatan untukku mendapatkan Ramadhan yang jauh lebih baik dan indah dibandingkan tahun-tahun yang telah lalu…
(jika sahabat tidak keberatan untuk memanfaatkan juga) seperti tahun-tahun sebelumnya, saya akan mengulang kembali apa yang saya dapat dari sahabat di negara tetangga, beberapa tahun yang lalu. “Panduan untuk mempersiapkan diri menghadapai ramadhan”. Panduan ini dapat disesuaikan dengan kebiasaan dan target pencapaian dari para sahabat. Dan bertujuan agar saat bulan Ramadhan datang, kita sebagai kaum muslim telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya. menyambutnya untuk tidak menyiayiakan sedetikpun dibulan yang penuh Rahmah dan Ampunan. Mudah-mudahan.. dengan hal ini, kita dapat “LULUS’ dalam Pesantren Ramadhan dengan predikat sangat memuaskan. Amiin. Mari kita berlomba-lomba… mempersiapkan diri meraih yang terbaik dibulan itu)

Tema : Menyadarkan hati
Kegiatan :
- Fokus minggu ini ialah untuk mengembalikan kestabilan jiwa dengan melakukan perbaikan pada hal-hal seperti dibawah ini
  • Mencoba untuk khusyuk ketika sholat.
  • Tilawah Al-Quran dan mencoba mengkhatamkannya minima sekali sebelum Ramadhan.
  • “>Membaca atau mendengar ceramah dari berbagai sumber media (radio, televisi, media online, buku-buku dsbnya) yang bertemakan mengenal Allah, Syurga dan nikmatnya,  melakukan Zikrullah, Taubat dan sebagainya
  • Berfikir tentang tujuan penciptaan manusia sebagai makhluk Allah
  • Muhasabah diri tentang apa yang telah dicapai ditahun ini.
  • Berdoa dengan sungguh-sungguh, memohon keridhoan Allah membantu kita dalam melakukan ketaatan padaNYA.
  • Ini merupakan waktu yang cukup baik untuk meninggalkan beberapa sikap buruk seperti merokok, mengumpat, mengeluarkan kata-kata kasar dan sebagainya.

Tema : Minggu Puasa dan Quran
Kegiatan :
Meneruskan kegiatan sesi I ditambah dengan kegiatan yang fokus pada tazkirah mengenai Ramadhan untuk memberi rangsangan dan motivasi yang berpanjangan.
  • Mulai puasa senin dan Kamis.
  • Memperbanyak membaca dan mendengar Al-Quran.
  • Mencoba untuk menghabiskan satu juz Al-Quran sehari agar dapat khatam sebelum Ramadhan.
  • • Mengulangi dan mengkaji hafalan Al-Quran yang telah dihafalkan

Tema : Minggu Fajar, Zikir dan Sedekah
Kegiatan :
- Tetap mengerjakan kegiatan yang telah dilakukan di dua sesi sebelumnya ditambah dengan
  •  Tunaikan solat Subuh pada waktunya dan dua raka’at sebelumnya. (Sholat Sunnah Qobliyah Subuh)
  • Tunaikan zakat harta
  • Banyakkan amalan sedekah
  • Pelajari jenis-jenis sedekah selain harta (senyum, perkataan yang baik, menolong sesama muslim, menulis yang baik, membagikan ilmu, dsbnya….) 

Tema : Minggu Qiyamullail dan Amalan Sunah
Kegiatan :
- Tetap mengerjakan kegiatan yang telah dilaksanakan hingga sesi ke III dan ditambahkan dengan
  • Mulai dengan Qiyamullail 3 kali dalam seminggu.
  • Tunaikan dua rakaat selepas Isya’ sebelum (tidur). atau Sholat Sunnah Ba’diyah Isya’
  •  Berusaha agar dapat bangun pagi 30 menit sebelum adzan Subuh, Iltizam dengan sunnah Rawatib (2 rakaat sebelum Subuh, 4 rakaat sebelum dan sesudah Dzuhur, 2 rakaat setelah Maghrib, 2 rakaat setelah Isya’, Solat Dhuha antara terbit matahari hingga waktu Dzuhur dan Sholat Witir selepas Isya’ hingga sebelum Subuh)
  • Litizam dengan Tilawah Quran selepas Subuh hingga terbit matahari diikuti dengan 2 rakaat Dhuha. Lakukan sekali seminggu sebagai permulaannya yaitu pada awal-awal sesi ke IV dan telah rutin dicapai di hari terakhir sesi ke IV
  • Mencoba mengatur jadwal dan pola makan anda agar benar-benar menyehatkan dan menghindari makan dengan jumlah yang terlalu banyak.
  • Ini penting untuk memastikan Ramdhan yang bakal datang itu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Allah dan bukannya pesta makan!

Tema : Minggu Silahturahim
Kegiatan :
-Melanjutkan kegiatan yang telah dapat dikerjakan hingga sesi ke IV dan tambahkan dengan
  • Muliakan minggu ini membangun ikatan silahturahim, baik itu melalui bertemu langsung, atau dengan pembicaraan telepon, e-mail dsbnya juga dengan perbanyak doa untuk orang tua serta kaum kerabat.
  • Saling memberikan hadiah yang bermanfaat. 
  • Menjadikan menjambut Ramadhan sebagai topik bahasan dalam percakapan yang  paling penting.

 Tema : Minggu Doa dan Taubat
Kegiatan :
- Tetap mengerjakan semua amalan yang telah dapat dilakukan pada 5 sesi waktu sebelumnya ditambah dengan
  •  Sesi ini merupakan sesi persiapan terakhir.
  • Banyakkan doa dan istighfar. Mohon agar dipertemukan dengan Ramadhan, diberi kekuatan untuk melakukan ketaatan pada bulan Ramadhan nanti dan diterima segala amalan yang kita lakukan.
  • Bertaubat sepenuhnya di atas segala keterlanjuran sebelum ini, dan mulailah lembaran baru dengan Allah.
  • Pastikan anda khatam Al-Quran pada minggu ini
  •  Menyediakan “Kantong Ramadhan” atau menyiapkan dana khusus keperluan berbuka untuk diedarkan kepada  keluarga-keluarga yang kekurangan.
  • Pada malam melihat pergantian bulan (bulan Sya’ban memasuki bulan Ramadhan), kumpulkan seluruh keluarga untuk bersama-sama menantikan pengumuman pemerintah tentang tibanya bulan Ramadhan.
  • Gembirakan anak-anak dengan mengantung perhiasan seperti balon warna-warni, hiasan rumah dan sebagainya sebagai lambang kegembiraan menyambut tibanya bulan Ramadhan. Agar sejak dini anak-anak ini akan meresapi betapa berharga dan bahagianya kesempatan memperoleh bulan Ramadhan dalam hidup. 

 “Apabila malam pertama Ramadhan menjelang, syaitan dan para jin akan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup dan tiada satupun yang dibuka, pintu-pintu syurga dibuka dan tiada satupun yang ditutup. Si tukang seru menyeru: Wahai pencari kebaikan! Ayo maju. Wahai pencari kejahatan! Ayo berhenti”.
[Diriwayatkan oleh at-Tirmizi]

“Ramadhan telah tiba kepada kamu. Ia bulan berkat yang dilimpahkan oleh Allah untuk kamu. Di dalamnya, Dia menurunkan rahmat, menghapuskan kesalahan, mengqabulkan doa, menonton persaingan kamu dalam kebaikan dan berbangga dengan kamu di hadapan para malaikatNya. Lantaran itu, tunjukkanlah kepada Allah kebaikan diri kamu. Orang yang malang ialah sesiapa yang tidak memperolehi rahmat Allah ‘Azza wa Jall”
[Diriwayatkan oleh at-Tobroni]

Marilah kita berniat semoga Ramadhan tahun ini akan menjadikan kita lulus dalam keadaan yang bertambah keimanan dan meningkat ketaqwaan. Insya Allah.
Siapa yang bangun malam bersembahyang pada bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharapkan (keredhaan Allah), dosanya yang lalu diampunkan”.[Diriwayatkan oleh al-Bukhari]

“Apabila seorang lelaki membangunkan keluarganya (isterinya) pada waktu malam lalu mereka berdua bersembahyang atau setiap daripada mereka bersembahyang dua rakaat, mereka dicatat sebagai golongan lelaki dan perempuan yang berzikir” [Diriwayatkan oleh Abu Dawud]
cahaya muslimah. com
Share READ MORE - Program Persiapan Menyambut Ramadhan 1433H

Selasa, 05 Juni 2012

3 UCAPAN UNTUK 3 SITUASI



Hidup di dunia bagi seorang mukmin merupakan daftar panjang menghadapi aneka ujian yang datang dari Allah Sang Pencipta Yang Maha Berkehendak lagi Maha Kuasa. Terkadang hidup diwarnai dengan kondisi suka dan terkadang dengan kondisi duka. Seorang mukmin tidak pernah mengeluh apalagi menyalahkan Allah ketika sedang diuji dengan kesulitan hidup. Ia selalu berusaha untuk tetap bersabar manakala ujian duka melanda hidupnya. Sebaliknya seorang mukmin tidak bakal lupa bersyukur tatkala sedang diuji dengan karunia kenikmatan dari Allah. Demikian indah dan bagusnya respon seorang mukmin menghadapi aneka ujian hidup sehingga Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengungkapkan ketakjuban beliau.
 “Sungguh menakjubkan urusan orang beriman! Sesungguhnya semua urusannya baik. Dan yang demikian tidak dapat dirasakan oleh siapapun selain orang beriman. Jika ia memperoleh kebahagiaan, maka ia bersyukur. Bersyukur itu baik baginya. Dan jika ia ditimpa mudharat, maka ia bersabar. Dan bersabar itu baik baginya.” (HR Muslim 5318)
Bahkan Nabi Muhammad shollallahu ’alaih wa sallam mengajarkan kita agar memberikan respon yang sesuai untuk setiap kondisi ujian yang sedang datang kepada diri seorang mukmin. Dalam hadits di bawah ini sekurangnya Nabi mengajarkan tiga jenis ucapan berbeda untuk merespon tiga jenis kondisi ujian yang menghadang seorang mukmin dalam hidupnya di dunia.   
”Barangsiapa dikaruniai Allah kenikmatan hendaklah dia bertahmid (memuji) kepada Allah, dan barangsiapa merasa diperlambat rezekinya hendaklah dia beristighfar kepada Allah. Barangsiapa dilanda kesusahan dalam suatu masalah hendaklah mengucapkan "Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim." (Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung)" (HR. Al-Baihaqi dan Ar-Rabii')

·         Saat menghadapi kondisi memperoleh kenikmatan.
Dalam kondisi seperti ini seorang mukmin diharuskan mengucapkan pujian bagi Allah, yaitu mengucapkan Alhamdulillah. Sebab dengan dia mengucapkan kalimat yang menegaskan kembali bahwa segala karunia berasal hanya dari Allah, maka berarti ia menutup segala celah negatif yang bisa jadi muncul dan diolah setan, yaitu menganggap bahwa kenikmatan yang ia peroleh adalah karena kehebatan dirinya dalam berprestasi. Setan sangat suka menggoda manusia dengan menanamkan sifat ’ujub atau bangga diri bilamana baru meraih suatu keberhasilan atau kenikmatan. Manusia dibuat lupa akan kehadiran Allah yang pada hakekatnya merupakan sumber sebenarnya dari datangnya kenikmatan. Jika Allah tidak izinkan suatu kenikmatan sampai kepada seseorang bagaimana mungkin orang tersebut akan pernah dapat menikmatinya?
Sebenarnya dalam kehidupan di dunia kenikmatan Allah senantiasa tercurah kepada segenap hamba-hambaNya. Bahkan jumlah nikmat yang diterima setiap orang selalu saja jauh melebihi kemampuan orang itu untuk mensyukurinya. Jangankan kemampuan bersyukur seseorang melebihi nikmat yang ia terima dari Allah, bahkan sebatas mengimbanginya saja sudah tidak akan pernah sanggup. Maka, saudaraku, marilah kita lazimkan diri untuk sering-sering mengucapkan kalimat tahmid, baik saat kita menyadari datangnya nikmat maupun tidak.  

·         Kedua, saat merasa berada dalam kondisi rezeki sedang diperlambat.
Dalam kondisi seperti ini seorang mukmin disuruh untuk banyak mengucapkan kalimat istighfar. Kalimat istighfar berarti kalimat mengajukan permohonan agar Allah mengampuni dosa-dosa kita. Nabi Hud menyuruh kaumnya untuk beristighfar dan menjamin bahwa dengan melakukan hal itu, maka hujan deras bakal turun. Istilah ”hujan” di dalam tradisi ajaran Islam seringkali bermakna rezeki. Sehingga kaitannya menjadi sangat jelas. Orang yang sedang merasa rezekinya lambat atau seret kemudian ia beristighfar, maka ia sedang berusaha mengundang turunnya hujan alias rezeki dari Allah.

 “Dan (Hud berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu." (QS Hud ayat 52)

·         Ketiga, kondisi sedang dilanda kesusahan dalam suatu masalah.
Menghadapi kondisi seperti ini Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyuruh seorang mukmin untuk membaca kalimat Laa haula walaa quwwata illaa billaahil'aliyyil'adzhim. Kalimat ini sungguh sarat makna yang bermuatan aqidah. Bayangkan, kalimat ini bila diterjemahkan menjadi: Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Kalimat ini kembali mengingatkan kita akan pentingya kemantapan iman Tauhid seorang mukmin. Begitu si mukmin membaca kalimat tersebut dengan penuh pemahaman, penghayatan dan keyakinan, maka saat itu juga jiwanya akan meninggi dan berusaha menggapai kekuatan dan pertolongan Allah yang Maha Kuat lagi Maha Terpuji. Bila Allah telah mengizinkan kekuatan dan pertolonganNya datang kepada seseorang, maka masalah manakah yang tidak bakal sanggup diatasinya?
Oleh karena itu, sekali lagi kami tegaskan, Islam sangat mencela sikap ketergantungan seseorang kepada selain Allah saat menangani masalahnya. Hanya Allah tempat bergantung, tempat kembali dan tempat memohon pertolongan. Hanya Allah tempat kita ber-tawakkal. Malah seorang mukmin tidak boleh ber-tawakkal kepada dirinya sendiri.

 “Wahai Allah Yang Maha Hidup, wahai Allah Yang Senantiasa Mengurusi, tidak ada tuhan selain Engkau, dengan rahmatMu aku memohon pertolongan, perbaikilah keadaan diriku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan nasibku kepada diriku sendiri (walau) sekejap mata, tidak pula kepada seorang manusiapun.” (HR Thabrani 445)
Share READ MORE - 3 UCAPAN UNTUK 3 SITUASI

Selasa, 29 Mei 2012

It's So SIMPLE..!


  • Ada seseorang saat melamar kerja, memungut sampah kertas di lantai ke dalam tong sampah, dan hal itu terlihat oleh peng-interview, dan dia mendapatkan pekerjaan tersebut. Ternyata untuk memperoleh penghargaan sangat mudah, cukup memelihara kebiasaan yang baik.
  • Ada seorang anak menjadi murid di toko sepeda. Suatu saat ada seseorang yang mengantarkan sepeda rusak untuk diperbaiki di toko tsb. Selain memperbaiki sepeda tsb, si anak ini juga membersihkan sepeda hingga bersih mengkilap. Murid-murid lain menertawakan perbuatannya. Keesokan hari setelah sang empunya sepeda mengambil sepedanya, si adik kecil ditarik/diambil kerja di tempatnya. Ternyata untuk menjadi orang yang berhasil sangat mudah, cukup punya inisiatif sedikit saja
  • Seorang anak berkata kepada ibunya: “Ibu hari ini sangat cantik. Ibu menjawab: “Mengapa? Anak menjawab: “Karena hari ini ibu sama sekali tidak marah-marah. Ternyata untuk memiliki kecantikan sangatlah mudah, hanya perlu tidak marah-marah.
  • Seorang petani menyuruh anaknya setiap hari bekerja giat di sawah. Temannya berkata: “Tidak perlu menyuruh anakmu bekerja keras, Tanamanmu tetap akan tumbuh dengan subur. Petani menjawab: “Aku bukan sedang memupuk tanamanku, tapi aku sedang membina anakku. Ternyata membina seorang anak sangat mudah, cukup membiarkan dia rajin bekerja.
  • Seorang pelatih bola berkata kepada muridnya: “Jika sebuah bola jatuh ke dalam rerumputan, bagaimana cara mencarinya? Ada yang menjawab: “Cari mulai dari bagian tengah.” Ada pula yang menjawab: “Cari di rerumputan yang cekung ke dalam.” Dan ada yang menjawab: “Cari di rumput yang paling tinggi. Pelatih memberikan jawaban yang paling tepat: “Setapak demi setapak cari dari ujung rumput sebelah sini hingga ke rumput sebelah sana . Ternyata jalan menuju keberhasilan sangat gampang, cukup melakukan segala sesuatunya setahap demi setahap secara berurutan, jangan meloncat-loncat.
  • Katak yang tinggal di sawah berkata kepada katak yang tinggal di pinggir jalan: “Tempatmu terlalu berbahaya, tinggallah denganku.” Katak di pinggir jalan menjawab: “Aku sudah terbiasa, malas untuk pindah.” Beberapa hari kemudian katak “sawah” menjenguk katak “pinggir jalan” dan menemukan bahwa si katak sudah mati dilindas mobil yang lewat. Ternyata sangat mudah menggenggam nasib kita sendiri, cukup hindari kemalasan saja.
  • Ada segerombolan orang yang berjalan di padang pasir, semua berjalan dengan berat, sangat menderita, hanya satu orang yang berjalan dengan gembira. Ada yang bertanya: “Mengapa engkau begitu santai?” Dia menjawab sambil tertawa: “Karena barang bawaan saya sedikit.” Ternyata sangat mudah untuk memperoleh kegembiraan, cukup tidak serakah dan memiliki secukupnya saja
Share READ MORE - It's So SIMPLE..!

Selasa, 08 Mei 2012

Sekularisasi Agama, Liberalisme, Kapitalisme Ekonomi, Gaya Hidup Hedonis

Oleh Adian Husaini

Setelah sekularisasi kehidupan dari campur tangan agama, seluruh sudut kehidupan yang menyangkut hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan alam dibersihkan dari peran agama. Yang tersisa dari agama tinggal hubungan individu manusia dengan tuhan-nya.
Sekularisasi memantik perubahan tatanan kemasyarakatan dari pola komunal ke arah pola individual dengan semangat liberal dan pengagungan terhadap kebebasan individu secara mutlak. Kadang-kadang bahkan sangat ekstrem. Jangan heran jika di negara-negara yang menerapkan sekularisme-liberal secara pure seperti negara-negara Skandinavia, di ruang kuliah ketika dosen tengah menyampaikan kuliah di hadapan mahasiswa, di belakang ada sepasang mahasiswa-mahasiswi yang bercumbu. Pada kasus yang lain, ketika sepasang manusia bercumbu di rerumputan taman di pusat kota, mereka tidak dipersalahkan karena perbuatan asusila-nya, tetapi dituntut lantaran merusakkan rerumputan taman.


Jika hal itu kita teropong dengan pertimbangan syari’at dan akhlaq sebagai alat ukur dan cara pandang, betapa asingnya tata nilai yang meraka anut dengan tata-nilai Islam yang kita yakini. Kalau kita tidak merasakan keasingan itu, berarti kita telah terkontaminasi debu-debu sekularisme-liberal.
Tak ada tempat bagi manusia sekuler, penghargaan terhadap tampilan kesalehan di ruang publik. Sebaliknya juga tak ada celaan bagi tampilan ketidak-senonohan yang diperagakan di ruang publik sepanjang tidak mengganggu orang lain dan tidak merusak lingkungan.


Konsekuensi Logis
Ketika kasus pornografi marak berhembus di tengah masyarakat, tentunya dengan asumsi penyebaran kemesuman tersebut mayoritas melanda ummat Islam berdasarkan logika karena mayoritas penduduk negara ini adalah ummat Islam, tatkala akan diselesaikan dengan pendekatan hukum mengalami kesulitan. Mengapa? Landasan hakiki hukum yang diterapkan di masyarakat bekas jajahan Belanda ini adalah sistem hukum sekuler yang kafir. Nafas hukum itu sendiri kufur. Jadi bagaimana mungkin akan diharapkan untuk berpihak melindungi masyarakat Islam.

Sementara, jika hal itu ditilik dari sudut pandang hukum syari’at pun, persoalan itu kesulitan untuk dipecahkan ; ketiadaan pengakuan, kesulitan kesaksian jika dikenakan syarat persaksian hadd az-zina yang mensyaratkan 4 [empat] saksi harus berada pada tingkat keyakinan tanpa keraguan sama sekali menyaksikan kejadian itu sebagaimana mereka menyaksikan timba masuk ke dalam sumur. Kesaksian itu juga tidak dapat diwakili dengan gambar-gambar hasil pemotretan dari empat sudut pandang atau lebih, tidak juga dapat diwakili dengan rekaman gambar hidup alias video. Mengharapkan pengakuan dari para pelaku kemesuman tersebut secara suka rela, hampir mustahil, karena pengakuan suka rela biasanya disertai dengan kerelaan penerimaan hukum, pertobatan dilandasi harapan untuk terbebas dari balasan di akherat dengan menjalani hukuman dunia.
Padahal tersebarnya gambar tersebut di tengah masyarakat merupakan serbuan dekadensi akhlaq yang tidak lagi tertutup [sirri] tetapi sudah terbuka dan terang-terangan [‘alaniyah]. Tindakan yang mengundang datangnya murka Allah secara umum, tak sekadar menimpa pelaku [yang mungkin mungkir] oknum yang menyebarkannya, atau yang mengunduhnya di internet. Bahkan masyarakat yang tidak tahu-menahu ujung-pangkal kemesuman itupun terancam terkena bencana yang ditimbulkan. Untuk melindungi masyarakat awam yang tidak menginginkan dekadensi moral itu, juga tak ada payung hukum yang jelas dan tegas. Perdebatan soal itu tak pernah menyentuh esensi persoalan yang menjamin masalah tersebut tidak terulang. Ya! Memang menyedihkan hidup di bawah sistem sekuler-kufur bagi seorang muslim yang masih memiliki kecemburuan terhadap agamanya.
Persoalannya, hal itu merupakan konsekuensi logis dari sebuah pilihan. Ketika suatu masyarakat memilih jalan hidup bagi komunitasnya, pengambilan itu berlaku dari hulu sampai hilir. Tidak bisa dan tidak logis ketika kita mengambil pilihan sekularisme kehidupan dari peran agama, sementara kita menolak konsekuensi logis yang ditimbulkan dan menyumpah-nyumpah terhadap akibat buruknya.

Urutan Logis Proses Kesejarahan
Di Eropa, setelah sekularisasi kehidupan dari peran agama, spirit masyarakat komunal yang merupakan ciri abad pertengahan di Eropa, berubah secara drastis ke arah kehidupan masyarakat yang bercirikan semangat individualisme dengan pengakuan terhadap hak-hak pribadi secara mutlak. Kebebasan memilih agama, kebebasan untuk memilih antara beragama atau tidak beragama, kebebasan dalam berpendapat, kebebasan dalam kepemilikan, kebebasan dalam ekspresi seni dan lain-lain, seluruh segi kehidupan berubah.

Kebebasan dalam bidang ekonomi mendorong tumbuhnya pemupukan modal di tangan orang-orang kaya pemilik modal, sementara sebagian besar masyarakat merupakan kelompok buruh yang tidak memiliki kesempatan untuk memiliki modal dan mengembangkannya. Dari proses perubahan ini, tumbuhlah di tengah masyarakat sekelompok kecil manusia yang mengontrol modal dan faktor-faktor produksi sehingga semakin kaya, di tangannya ter-akulmulasi kekayaan luar biasa. Small group yang kekayaannya terus membesar, setiap perputaran harta terus menggelembungkan kekayaannya seperti bola salju.
Mereka inilah sebagian kecil manusia yang merupakan produk lanjut sekularisme-liberal, kehidupannya terlepas dari kendali moralitas agama, disemangati oleh kebebasan, di tangannya tersedia harta kekayaan yang terus membesar. Tak ada konsep kebahagiaan di akherat yang dengannya mereka melakukan investasi dan saving bagi kehidupannya mendatang dengan kekayaan berlimpah itu. Jika mereka mengulurkan tangan untuk berbagi dengan orang-orang miskin, pertimbangannya sebatas tanggung jawab sosial, tak lebih. Bukan karena ingin memetik balasan yang lebih besar di akherat nanti, karena mereka skeptis terhadap adanya hari akhir atau bahkan mengingkarinya.

Karena tak ada konsep kebahagiaan hidup sesudah mati yang mereka yakini, tentu saja orientasi hidup mereka adalah menikmati harta kekayaan tersebut sepuas-puasnya di tempat ini [baca di dunia] secepat-cepatnya. Jika hal itu tidak mereka lakukan, mereka khawatir kehilangan waktu untuk menikmatinya dan akhirnya kesempatan itu hilang. Inilah yang terungkap dengan pepatah mereka yang terkenal, Nikmati bunga tersebut sepuas-puasnya hari ini, karena besok pagi bunga itu akan layu. Pandangan hidup seperti ini disinyalir oleh Allah di dalam firman-Nya :
Dan tentu mereka akan mengatakan (pula), hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan” [Al-An’aam : 29]


Gaya Hidup Hedonis
Menikmati dunia sepuasnya, setelah kunci-kunci kekayaan itu dibuka oleh Allah memang lebih ditakutkan oleh RasululLah shallalLaahu’alayhi wa sallam dibandingkan belitan kefakiran. Dalam salah satu makna sabda Beliau :
“Bukan kefaqiran yang aku takutkan menimpa kamu sekalian, akan tetapi yang lebih aku takutkan adalah ketika dihamparkannya kekayaan dunia terhadap kamu sekalian, kemudian kalian menikmati dunia itu sepuas-puasnya, kemudian kalian dihancurkan oleh Allah sebagaimana orang-orang sebelum kalian telah dibinasakan [HR Bukhari-Muslim].

Hedonisme merupakan tubir jurang paling tepi dari tahapan kehancuran jalan hidup materialisme. Kota Pompeei dan penduduknya yang dikubur oleh Allah lengkap dengan ekspresi mereka tatkala adzab datang dengan tiba-tiba, merupakan monumen peringatan bagi penempuh jalan ini jika mau mengambil pelajaran. (arrisalah.net)
Share READ MORE - Sekularisasi Agama, Liberalisme, Kapitalisme Ekonomi, Gaya Hidup Hedonis

Senin, 23 April 2012

Jangan Galau, Allah Bersama Kita!


Zaman sekarang berbagai masalah makin kompleks. Entah itu komplikasi dari masalah keluarga yang tak kunjung selesai, masalah hutang yang belum terbayar, bingung karena ditinggal pergi oleh sang kekasih, ataupun masalah-masalah lain. Semuanya bisa membuat jiwa seseorang jadi kosong, lemah atau merana.
“Galau!!” merupakan sebuah kata-kata yang sedang naik daun, di mana kata-kata itu menandakan seseorang tengah dilanda rasa kegelisahan, kecemasan, serta kesedihan pada jiwanya. Tak hanya laku di facebook atau twitter saja, bahkan di media televisi pun orang-orang seakan-akan dicekoki dengan kata-kata “galau” tersebut.
Pada dasarnya, manusia adalah sesosok makhluk yang paling sering dilanda kecemasan. Ketika seseorang dihadapkan pada suatu masalah, sedangkan dirinya belum atau tidak siap dalam menghadapinya, tentu jiwa dan pikirannya akan menjadi guncang dan perkara tersebut sudahlah menjadi fitrah bagi setiap insan.
...Jangankan kita manusia biasa, bahkan Rasulullah pun pernah mengalami keadaan keadaan galau pada tahun ke-10 masa kenabiannya...
Jangankan kita sebagai manusia biasa, bahkan Rasulullah Muhammad shalallahu alaihi wasallam pun pernah mengalami keadaan tersebut pada tahun ke-10 masa kenabiannya. Pada masa yang masyhur dengan ‘amul huzni (tahun duka cita) itu, beliau ditinggal wafat oleh pamannya, Abu Thalib, kemudian dua bulan disusul dengan wafatnya istri yang sangat beliau sayangi, Khadijah bintu Khuwailid.
Sahabat Abu Bakar, ketika sedang perjalanan hijrah bersama Rasulullah pun di saat berada di dalam gua Tsur merasa sangat cemas dan khawatir dari kejaran kaum Musyrikin dalam perburuan mereka terhadap Rasulullah. Hingga turunlah surat At-Taubah ayat 40 yang menjadi penenang mereka berdua dari rasa kegalauan dan kesedihan yang berada pada jiwa dan pikiran mereka.

Jangan Galau, Innallaha Ma’ana!
Allah Ta’ala berfirman, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kami” (QS. At Taubah: 40)
Ayat di atas mungkin dapat menjadikan kita agar lebih merenungi lagi terhadap setiap masalah apapun yang kita hadapi. Dalam setiap persoalan yang tak kunjung terselesaikan, maka hadapkanlah semua itu kepada Allah Ta’ala. Tak ada satupun manusia yang tak luput dari rasa sedih, tinggal bagaimana kita menghadapi kesedihan dan kegalauan tersebut.
...Allah telah memberikan solusi kepada manusia untuk mengatasi rasa galau yang sedang menghampiri jiwa...
Adakalanya, seseorang berada pada saat-saat yang menyenangkan, tetapi, ada pula kita akan berada pada posisi yang tidak kita harapkan. Semua itu sudah menjdai takdir yang telah Allah Ta’ala tetapkan untuk makhluk-makhluk Nya.
Tetapi, Allah Ta’ala juga telah memberikan solusi-solusi kepada manusia tentang bagaimana cara mengatasi rasa galau atau rasa sedih yang sedang menghampiri jiwa. Karena dengan stabilnya jiwa, tentu setiap orang akan mampu bergerak dalam perkara-perkara positif, sehingga dapat membuat langkah-langkahnya menjadi lebih bermanfaat, terutama bagi dirinya lalu untuk orang lain.
Berikut ini adalah kunci dalam mengatasi rasa galau;
1. Sabar
Hal pertama yang dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika menghadapi cobaan yang tiada henti adalah dengan meneguhkan jiwa dalam bingkai kesabaran. Karena dengan kesabaran itulah seseorang akan lebih bisa menghadapi setiap masalah berat yang mendatanginya.
Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar” (Qs. Al-Baqarah 153).
Selain menenangkan jiwa, sabar juga dapat menstabilkan kacaunya akal pikiran akibat beratnya beban yang dihadapi.
2. Adukanlah semua itu kepada Allah
Ketika seseorang menghadapi persoalan yang sangat berat, maka sudah pasti akan mencari sesuatu yang dapat dijadikan tempat mengadu dan mencurahkan isi hati yang telah menjadi beban baginya selama ini. Allah sudah mengingatkan hamba-Nya di dalam ayat yang dibaca setiap muslim minimal 17 kali dalam sehari:
“Hanya kepada-Mulah kami menyembah, dan hanya kepada-Mulah kami meminta pertolongan” (QS. Al Fatihah 5).
...ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka akan meringankan beban berat yang kita derita...
Mengingat bahwa manusia adalah makhluk yang banyak sekali dalam mengeluh, tentu ketika keluhan itu diadukan kepada Sang Maha Pencipta, maka semua itu akan meringankan beban berat yang selama ini kita derita.
Rasulullah shalallahi alaihi wasallam ketika menghadapi berbagai persoalan pun, maka hal yang akan beliau lakukan adalah mengadu ujian tersebut kepada Allah Ta’ala. Karena hanya Allah lah tempat bergantung bagi setiap makhluk.
3. Positive thinking
Positive thinking atau berpikir positif, perkara tersebut sangatlah membantu manusia dalam mengatasi rasa galau yang sedang menghinggapinya. Karena dengan berpikir positif, maka segala bentuk-bentuk kesukaran dan beban yang ada pada dalam diri menjadi terobati karena adanya sikap bahwa segala yang kesusahan-kesusahan yang dihadapi, pastilah mempunyai jalan yang lebih baik yang sudah ditetapkan oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana firman-Nya;
“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (Qs Al-Insyirah 5-6).
4. Dzikrullah (Mengingat Allah)
Orang yang senantiasa mengingat Allah Ta’ala dalam segala hal yang dikerjakan. Tentunya akan menjadikan nilai positif bagi dirinya, terutama dalam jiwanya. Karena dengan mengingat Allah segala persoalan yang dihadapi, maka jiwa akan menghadapinya lebih tenang. Sehingga rasa galau yang ada dalam diri bisa perlahan-perlahan dihilangkan. Dan sudah merupakan janji Allah Ta’ala, bagi siapa saja yang mengingatnya, maka didalam hatinya pastilah terisi dengan ketenteraman-ketenteraman yang tidak bisa didapatkan melainkan hanya dengan mengingat-Nya.
...Bersabar, berpikir positif, ingat Allah dan mengadukan semua persoalan kepada-Nya adalah solusi segala persoalan...
Sebagaimana firman-Nya:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah lah hati menjadi tenteram” (Qs Ar-Ra’du 28).
Berbeda dengan orang-orang yang lalai kepada Allah, yang di mana jiwa-jiwa mereka hanya terisi dengan rasa kegelisahan, galau, serta kecemasan semata. Tanpa ada sama sekali yang bisa menenangkan jiwa-Nya.
Tentunya, sesudah mengetahui tentang faktor-faktor yang dapat mengatasi persoalan galau, maka jadilah orang yang selalu dekat kepada Allah Ta’ala. Bersabar, berpikir positif, mengingat Allah, serta mengadukan semua persoalan kepada-Nya merupakan kunci dari segala persoalan yang sedang dihadapi. Maka dari itu, Janganlah galau, karena sesungguhnya Allah bersama kita. [voa-islam.com] zahi
Share READ MORE - Jangan Galau, Allah Bersama Kita!

Kamis, 12 Januari 2012

Islam, Kurap dan Kudis

Oleh: Ahmad Saleh MS, PAH Kota Palembang
 
 TRIBUNNEWS.COM - Penduduk Indonesia berjumlah lebih kurang 200 juta lebih, 90 persen menganut agama Islam. Tetapi yang mengamalkan ajaran rahmatan lil alamin ini baru 60 persen, sisanya yang 30 persen terkena penyakit kudis alias kurang disiplin dan kurang perhatian (kurap).
Kenapa dengan kurap dan kudis? Sikap mereka yang cuek bebek bikin kita prihatin. Betapa tidak. Ketika mereka diajak dan dipanggil lewat kumandangan azan melalui media televisi, masjid, mushala, dan surau di tepian sungai yang airnya jernih mengalir, agar menunaikan ibadah salat tidak pernah digubris.
Panggilan mulia itu dianggap biasa-biasa saja, bagaikan angin sepoi berlalu. Mereka tetap tidak juga beranjak dari tempatnya dan masih kesemsem dengan urusan dunia.
Yang berdagang di kala maghrib masih sibuk dengan urusan dagangannya. Sopir tetap beraksi menjalankan mobil angkutannya. Pegawai yang di kala zuhur tiba tetap sibuk dengan peristirahatannya. Begitu pula politisi masih sibuk dengan perbantahannya. Yang muda-muda apalagi, mereka asyik dengan dunia kebut-kebutannya.
Padahal bagi umat Islam salat adalah perintah Allah SWT yang wajib dilaksanakan. Bagi yang tidak melakukannya akan mendapat dosa. Sebab salat lima waktu itu hukumnya fardhu 'ain (diwajibkan atas setiap muslim laki-laki dan perempuan yang dewasa).
Salat berasal dari bahasa Arab yang berarti doa dan doa adalah permohonan.
"Dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menjadi) ketentraman jiwa bagi mereka." (QS At-Taubah (9): 103).
Sedangkan menurut istilah syara', salat adalah ibadah yang dikerjakan umat Islam dimulai dari takbiratul ihram dan diakhiri dengan salam sesuai dengan syarat dan rukunnya.
Ini adalah pendapat ulama fiqh, di antaranya Imam Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad al-Husaini al-Hishni ad-Dimasqy as-Syafii dalam kitabnya Kifayah al-Akhyar dan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dalam kitabnya Perukunan Besar. (Islam Digest, Edisi Ahad, 15 Agustus 2010).
  Tiang Penyangga
Salat itu adalah tiang agama yang utama dibandingkan tiang agama lainnya. Nabi Muhammad SAW bersabda: "Agama dibangun atas lima tiang penyangga. Yang pertama syahadat, dua salat, tiga puasa, empat zakat dan lima adalah naik haji ke Mekkah al-Mukarromah bagi orang yang mampu." (HR Bukhari dan Muslim dari Umar Ibnul Khatthab ra).
Di akherat nanti, seperti sabda Nabi Muhammad SAW, akan dipertanyakan terlebih dulu kepada manusia di Padang Mahsyar nanti tentang salat. Bila salatnya baik maka akan baik pula semua amal perbuatan di dunia, apa pun bentuknya. Demikian pula bila amal ibadah salat kita ternyata tidak baik, angka merah, apalagi sampai tidak dikerjakan sama sekali selama hidup, maka seluruh amal yang diperbuat di dunia ini akan ditolak, termasuk amal ibadah haji sekalipun.
Makna esensi hadist ini adalah semua amal ibadah, diterima atau ditolak. tergantung bagaimana salatnya, dikerjakan atau tidak sama sekali. Sedangkan tegak berdirinya agama juga terletak pada salat. Kalau tidak dikerjakan akan runtuhlah agamanya. Maknanya, barangsiapa tidak melaksanakan berarti otomatis agamanya runtuh.
Rasulullah SAW juga menekankan, seperti sabda beliau berikut ini: "Barangsiapa meninggalkan salat dengan sengaja, tidak disebabkan uzur syar'i, maka kafir dengan nyata." (HR Bukhari dan Muslim).
Mengapa Rasulullah SAW sangat menekankan ibadah salat? Karena ada dua manfaat yang bisa dipetik dari ibadah salat. Pertama, mendekatkan diri kepada Allah SWT. Kedua, membimbing umat agar selalu dalam kedamaian.
  Beruntung
Menurut Prof Dr Mahmud Syaltut, dengan salat lima waktu seorang muslim mengingat Tuhannya dalam masa yang berurutan pada siang dan malam hari. Dengan salat ini pula ia mengulangi kehadirannya di hadapan Tuhan.
Alquranulkarim telah menampilkan salat dari beberapa segi, di antaranya sifat orang-orang yang bertakwa dan bisa mengambil manfaat dari kitabullah. Mereka yang bersifat dengan sifat-sifat seperti itu termasuk orang-orang yang memperoleh petunjuk dari Tuhan dan mereka adalah orang-orang yang beruntung. (QS Al- Baqarah (2): 1-5).
Salat juga merupakan salah satu unsur dari unsur-unsur kebaikan dan kebenaran yang telah ditetapkan Allah SWT bagi hamba-Nya, diseru-Nya mereka untuk menunaikannya dan dijadikan-Nya unsur tersebut sebagai kebenaran keimanan mereka dan bahwa mereka adalah orang-orang yang bertakwa. (QS 2: 177).
Alquranulkarim juga menampilkan salat dan menetapkannya sebagai amalan pertama sesudah keimanan, yang dalam hal ini menunjukkan kebenaran keimanan tersebut dan memberikan hak kepada pemiliknya untuk dikelompokkan ke dalam lingkungan persaudaraan kaum mukminin. (QS 9:11).
Sebaliknya Alquran juga menegaskan bahwa meninggalkan salat pertanda tenggelamnya seorang manusia ke dalam hawa nafsu dan jalan kejatuhan ke dalam jurang kecelakaan dan kesesatan. Juga merupakan salah satu sebab di antara sebab-sebab keabadian di dalam neraka. (QS Maryam (19): 59 dan QS Al-Muddatstsir (74): 38-47).
Demikian pula Alquran telah menjadikan lalai terhadap salat dan tidak memperhatikan makna dan ruhnya sebagai tanda mendustakan hari pembalasan. (QS Al-Ma'un (107): 1-7).
Luqman sendiri mewasiatkan kepada anaknya agar mendirikan salat. "Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh) Allah." (QS Luqman 17).
  Ampunan
Akhirnya, kita banyak berharap agar orang yang terkena penyakit kurap terhadap berbagai masalah atau kejadian yang menimpa negeri tercinta ini seperti gempa, tsunami, gunung meletus, lumpur lapindo, banjir, kebakaran, huru-hara dan pelanggaran HAM ini bisa segera bangkit dan mengharapkan ampunan Allah SWT.
Semoga keselamatan tetap dinikmati dan sangat didambakan. Kepada umat Islam yang masih tetap istiqomah tetaplah mematuhi Undang-undang Allah, rasul dan pemerintah, melaksanakan ajaran Islam dalam setiap rona kehidupan karena Islam itu bukan hanya pengakuan namun harus disertai perbuatan.
Share READ MORE - Islam, Kurap dan Kudis

Rabu, 11 Januari 2012

Menjadi Pendengar Yang Baik

Para bijak yang mengatakan, "Satu-satunya alasan kita mendengarkan adalah karena kita tahu bahwa kita bisa berbicara berikutnya" membuat titik yang tepat. Keterampilan mendengarkan dengan baik, bagaimanapun, adalah salah satu elemen paling penting untuk karir yang sukses.. Seorang CEO dari perusahaan terkenal pernah ditanya pertanyaan ini dari seorang karyawan baru dalam sebuah pertemuan orientasi: "Apa kunci sukses Anda?" Jawabannya: ". Saya pikir saya pendengar yang baik"

Kita begitu mudah terganggu ketika kita menanggapi ponsel kita, obrolan dengan orang di samping kita, sehingga kita kehilangan apa yang dikatakan orang yang sedang berbicara di depan. Kita harus menemukan cara untuk memperhatikan. Mari kita coba atasi hal ini - kita harus ada ketika kita ada. Cara utama untuk "ada ketika Anda ada" adalah meningkatkan keterampilan mendengarkan Anda. Berikut adalah beberapa tips tentang cara meningkatkan pendengaran Anda hari ini dalam rangka untuk membayar perhatian yang lebih baik.

Jeda sebelum memberikan tanggapan. Hanya jeda tiga detik akan mendorong orang yang berbicara untuk memberi Anda informasi lebih lanjut atau memberikan Anda waktu untuk mempersiapkan jawaban yang ringkas dan relevan dalam respon. Praktek tiga-hitungan untuk mendapatkan dalam kebiasaan untuk jeda sebelum memberikan umpan balik.

Dengarkan untuk mengajukan pertanyaan. Bahkan jika Anda tidak bisa mengajukan pertanyaan, hanya memikirkan pertanyaan akan memotivasi Anda untuk memproses informasi dan tetap terhubung dengan orang yang berbicara. Orang yang banyak bicara, berarti mendominasi percakapan; tetapi orang yang mengajukan pertanyaan, maka ia mengontrol pembicaraan. Pertanyaan memungkinkan Anda untuk sedikit berbicara dan juga memiliki pengaruh positif pada arah pembicaraan.

Ketika Anda mendengarkan, kontraskan waktu yang Anda habiskan mendengarkan dibandingkan berbicara. Presiden Lyndon Johnson menulis di dinding kantornya, "Kau tidak belajar apa-apa ketika Anda berbicara." Lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Jika Anda menemukan diri Anda berbicara terlalu banyak, cukup putar topik Anda menjadi pertanyaan terbuka. Sebagai contoh, jika Anda berbicara tentang World Series, Anda dapat berhenti sejenak dan bertanya, "Bagaimana perasaan Anda tentang Seri pergi ke November?" Kemudian duduk kembali dan mendengarkan. Anda segera pergi dari pembicara ke pendengar.

Dengarkan dengan tidak menjustifikasi. Ketika Anda mendengarkan, jangan biarkan emosi Anda mengganggu. Tetap dengan pemahaman pesan dan bukan bagaimana Anda merasa tentang pesan. Kenali bias Anda dan jangan biarkan mereka membuat Anda dari memahami pesan. Ketika Anda mendengarkan dengan emosional, secara mental anda mungkin mulai untuk menolak bahkan ketika pembicara masih memberi Anda informasi penting.

Akhirnya, terlihat dan terdengar menyenangkan saat Anda mendengarkan. Terlihat seperti Anda membayar perhatian; bersandar ke depan, melakukan kontak mata, postur menunjukkan terbuka, dan suara mendorong. Gunakan kata-kata umpan balik seperti, "oh," "ceritakan lebih banyak," dan "yang harus sulit," dengan nada ke atas untuk suara Anda untuk mendorong informasi lebih lanjut.

Seperti kata Voltaire lama, "Ketika Anda mendengarkan, Anda memiliki kekuatan; Ketika Anda berbicara, Anda memberikannya pergi.." speakingtips.com
Share READ MORE - Menjadi Pendengar Yang Baik

Rabu, 23 November 2011


KDRT = NO  SAKINAH = YES
oleh : Atok Rahman Hakim, S.H.I *

Share READ MORE -

MENINGKATKAN KUALITAS KECERDASAN EMOSI ( EMOTIONAL QUESTION )



Seorang rekan saya angota DPR/ MPR RI, melakukan study komperatif ke negara paman Sam Amerika Serikat. Beliau merupakan salah satu dari komisi luar negri. Diantara tempat yang di kunjungi adalah sebuah perusahaan besar, yang penghasilannya pertahun melebihi RAPBN Indonesia selama 5 tahun. Perusahaan ini adalah perusahaan "Nike". Disana ada sebuah ruangan besar, Show room atau ruang pamer, dalam ruangan tersebut hanya ada sedikit produk-produk Nike yang dipamerkan. Tapi yang paling dominan adalah foto-foto para legendaris atlet olah raga, atau para pemenang sejati dibidang olah raganya masing – masing. ketika ditanya kepada pimpinannya apa yang sesungguhnya anda jual? Dia menjawab kami tidak menjual produk kami ( Sepatu Nike ), tapi kami menjual life style atau gaya hidup. Dan yang ingin kami jaga adalah image mereka sebagai legendaris dalam bidang olah raga, bahwa mereka pun semuanya memakai sepatu produksi Nike.
Bisa di perhatikan dari cerita di atas, begitulah cara-cara kaum kapitalis dunia merubah gaya hidup masyarakat modern. Mereka memasukan ide-ide cemerlang mereka untuk di jadikan gaya hidup, life style dengan brbagai cara. Hal seperti ini sudah marak terjadi di Jakarta. Begitu banyak mall-mall, plaza-plaza dan pusat perbelanjaan yang begitu megah, yang kesemuanya itu ingin merubah gaya hidup masyarakat dewasa ini. Bahkan ada beberapa pusat perbelanjaan yang memberikan diskon besar-besaran pada jam 22.00 s/d 24.00, dengan kata lain ingin merubah pola hidup masyarakat kota, yaitu waktu tidur dipakai untuk berbelanja. Dan terbukti cara ini sangat ampuh sekali untuk merubah gaya hidup masyarakat kita. Begitulah bahwa kapitalisme dunia ingin merubah gaya dan pola hidup masyarakat dunia saat ini. Mereka diajak berfikir jauh, berpikir besar dan berpikir materi-materi semata untuk membesarkan dunia ini dan khusunya membesarkan mereka sendiri, dan demi kepentingan mereka sendiri.
Yang ingin kita ambil pelajaran dari cerita di atas adalah bahwa kaum kapitalis saja, sebagai orang pecinta dunia yang hanya memikirkan materi semata, begitu hebatnya mereka dalam mewarnai pola pikir masyarakat modern. Dengan membangun Show room, menjual image dan life style dari pada legendaris dunia, memasukan gagasan-gagasan mereka dalam pola pikir masyarakat.
Sesungguhnya Allah telah jauh-jauh hari berbuat seperti itu melalui Al-qur'an dan salah satu dari fungsi Al-qur'an adalah bahwa Al-qur'an merupakan Show room besar mulai dari pertama kali diturunkan sampai hari kiamat nanti. Show room yang muatan rentang waktunya begitu jauh dan luas sekali. Disana dipampangkan para the winer, para legendaris dunia dalam segala kebaikan: dalam iman dan islam, dalam perjuangan dan pengorbanan, dalam ketundukan dan ketaatan, dalam ibadah dan amal soleh serta dalam karya membangun peradaban dunia. Di sana juga dipampangkan para Nabi Rasul, manusia terbaik dan termulia sebagai teladan bagi umat manusia, mulai dari Nabi Adam As sampai Nabi akhir zaman yaitu Muhammad Saw. Juga kisah-kisah orang sukses, orang-orang yang telah syuhada. Yang demikian itu menunjukan bahwa betapa hebatnya Allah Swt memampangkan dan memamerkan dalam kitab sucinya yaitu Al-Qur'an.
Begitulah Allah yang jauh sebelumnya telah mengarahkan kita semua agar berpikir besar dan berusaha untuk mencapai obsesi kita, dengan mengoptimalkan cara berpikir. Oleh karena itu dalam training-training di berbagai tempat yang mengenai EQ, IQ, SQ, pengembangan SDM saat ini, ada sebuah bahasa yang mereka angkat yaitu berpikir besar, "you are what you thing", ("anda adalah apa yang anda pikirkan"). "Anta kaifa maa tufakkir", (" Anda adalah apa yang anda pikirkan"). Jadi seluruh apa yang kita perbuat dan lakukan adalah seluruh apa yang ada di dalam pikiran kita. Kita tidak mungkin bekerja, beraktikfitas apa yang tidak ada di dalam benak kita. Tetapi sungguh kita tidak akan keluar dari apa yang kita pikirkan dalam seluruh aktifitas kita.
Oleh sebab itu Rasululah Saw, menyatakan dalam sebuah hadits yang sangat masyhur dan sangat terkenal di telinga kita yaitu: "Innamaa al'Amaalu Bi anNiyaat," (Sesungguhnya amal itu tergantung dari pada niat). Maksud dari hadist tersebut, bahwa sesungguhnya seluruh aktivitas kerja, dan apapun yang kita lakukan sungguh sangat bergantung pada obsesi kita, keinginan-keinginan kita, cita-cita dan visi misi kita. Kalau seseorang melakukan niat, obsesi atau cita-cita maka seluruh hidupnya dedikasikan dan tujukan terhadap apa yang ia cita-citakan. Begitu juga orang yang mencintai dunia, maka seluruh hidupnya adalah untuk dunia. Orang yang mencintai akhirat maka seluruh hidupnya ditujukan untuk akhirat, meskipun dunia sebagai tunggangan dan sebagai sarananya.
Ternyata dengan al-Qur'an kita semua diajak untuk menjadi orang-orang besar meskipun kita oran-orang kecil. Kenapa demikian?. Karena ketika kita menata pola pikir, dan cara berpikir kita sesuai tuntunan al-Qur'an yaitu berfikir besar, maka kesuksesan dalam menjalani hidup di dunia dalam membangun peradaban dunia akan nampak di depan mata kita, meskipun jalannya panjang dan penuh dengan rintangan dan tantangan yang menghadang, tapi dengan berpikir besar pasti akan dilakuinya dengan mudah. Berbeda sekali dengan orang yang tidak mempunyai cita-cita dan pikiran yang besar, biasanya merasa cukup dengan yang ada tanpa mau menggali dan menggali potensi yang ada.
Kalau kita ingin mendapatkan kecerdasan emosional dan cita-cita serta harapan kita, maka hal pertama yang harus kita lakukan adalah menata cara dan pola pikir dengan baik. Contoh ketika kita menginginkan sesuatu, misalnya menikah, biasanya diawali dengan ketertarikan terhadap lawan jenis, ketertarikan pada mulanya hanya sebatas lintasan saja yang kemudian berkembang menjadi memori. Memori inilah yang kemudian menjadi sebuah gagasan atau ide, kemudian berangsur-berangsur menjadi sebuah tekad yang kuat dan pada akhirnya kita melaksanakan pernikahan yang pernah terlintas dalam pikiran kita, yang tadinya hanya sebuah lintasan saja.
Begitu pula dengan emosi kita, rasa senang, marah, kesal dan benci sungguh-sungguh bisa dimenej melalui bagaimana kita memenej lintasan-lintasan yang ada dalam pikiran kita. Inilah pentingnya menata pola pikir. Misalnya kalau kita hari ini berpuasa tapi tidak berniat puasa pada malam harinya, maka bisa dipastikan pada jam-jam makan atau dzuhur perut kita protes ingin diberikan makanan. Apa kaitannya dengan niat?. Ternyata ketika kita meletakan niat begitu saja tanpa tekad yang kuat maka seluruh sel-sel syaraf langsung mengontak hormon-hormon yang mencerna makanan di dalam perut, sehingga hormon-hormon tersebut tidak menjalankan tugasnya, padahal ini baru niatnya saja. Maka begitu pula ketika kita mencintai sesuatu, berharap kepada sesuatu, tunduk kepada sesuatu dan marah kepada sesuatu seluruhnya bisa kita menej dan tata menurut kehendak kita. Oleh sebab itu agar kita menjadi orang cerdas secara emsional, maka tatacara berfikir kita harus kita warnai dengan warna-warna ilahiah dan warna-warna imaniah.
Marahnya orang-orang beriman itu berdasarkan warna-warna ilahiah dan warna-warna imaniah. Dia akan memilah dan memilah mana yang harus marah dan mana yang tidak harus marah atau mereka menempatkan marah secara proporsional. Dalam sebuah riwayat Sayyidina Ali RA ketika marah dan ingin membunuh seorang musuh karena memerangi agama Allah tiba-tiba orang kafir tersebut meludahi mukanya. Bukannya Ali langsung membunuhnya tapi dia mengurungkan niatnya karena beliau tahu marahnya kali ini bukan karena Allah tetapi karena dirinya sendiri. Inilah contoh orang-orang yang mampu mengendalikan kecerdasan emosialnya. Begitu pula jika kita perhatikan kehidupan Rasulullah Saw, maka cukup bagi kita semuanya nabi sebagai qudwah dan teladan hidup.
Allah Swt memberikan janji bagi orang-orang yang mampu mengatur emosialnya dalam Al-qur'an surat Ali Imron, 3:134
"Dan bersegeralah kalian semuanya menuju ampunan Allah dan surganya yang luasnya seluas bumi dan langit. Yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang bertakwa, mereka orang-orang yang senantiasa berinfak dalam keadaan lapang dan susah. Dia orang-orang yang mampu mengendalikan marahnya dan gampang memaafkan saudara-saudaranya yang lain".
Allah Swt sampai memberikan janji yang indah ini mana kala kita mampu memenej dan mengelola emosial kita.
Apabila kita ingin mendapatkan kecerdasan emosional hal yang harus kita lakukan adalah berinteraksi dengan Al-Qur'an. Hanya dengan al-Qur'an sifat-sifat buruk akan menghilang sementara sifat-sifat baik akan tumbuh dan berkembang. Umar bin Khatab adalah seorang yang sangat kasar dan keras dan orang arab memang terkenal tempramental, tapi ketika mendengar Al-Qur'an beliau pernah sampai sakit dua bulan karena mendengar firman Allah : Surat Annaba, 78:30
"Karena itu rasakanlah. Dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab".
Suatu ketika Umar hedak pergi ke pasar, tiba-tiba dia mendengar ayat ini di lantunkan oleh seseorang, maka dia terhenti sejenak dan langsung badannya menggigil ketakutan sampai beliau lemas dan sakit selama dua bulan. Dan apabila terlintas di benak beliau dan berdengung di telinga beliau, beliau langsung menggigil dan lemas kondisi ini terus berlanjut hampir selama dua bulan. Maka siapapun kita yang hendak berinteraksi dengan Al-Qur'an sungguh dia akan menuai keselamatan dunia dan akhirat.

Seorang yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Qur'an minimal akan memunculkan tiga hal :
  1. senantiasa mendapatkan inspirsi tiada henti.
Orang semakin membaca Al-qur'an semakin dia mendapatkan ide-ide baru, gagasan dan inspirasi yang terus mengalir, maka dari itu kita diperintahkan untuk membaca Al-Qur'an secara kontinyu tiap hari bukan hanya malam-malam dan surat-surat tertentu, tetapi setiap waktu dan seluruh ayat-ayat yang terdapat di dalamnya.Demikianlah yang seharusnya dilakukan oleh seorang mukmin .
  1. Dia akan mendapatkan kesamaan gelombang iman .
Maka kami yakin bahwa yang senantiasa shalat berjamaah di masjid dan memakmurkannya adalah orang-orang yang memiliki gelombang iman yang sama, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu redah. Dan gelombang iman ini adalah gelombang yang terus menerus tidak mengenal waktu dan tempat karena kebiasaan berinteraksi dengan Al-Qur'an. Dan yakinlah kalau gelombang keimanan kita sama maka kita pada hakikatnya sedang melakukan segala kebaikan.
3. Dia akan menjadi orang yang cepat merespon seruan Allah.
Contoh, ada sebuah kisah seorang pemuda yang bernama Zahid. Dia adalah ahli suffah yaitu seorang yang hidupnya di mesjid dan segala aktivitasnya di mesjid. Dia belum mempunyai pekerjaan sehingga menjadi pembantu Rasulullah Saw di mesajid. Pada suatu pagi dia didatangi oleh Rasulullah Saw dan ditanya apakah dia mau menikah? Tentu saja Zahid mau, tetapi dia merasa tidak ada orang yang mau mengambil dirinya sebagai menantu. Kemudian Rasul memerintahkanya untuk membawa surat kepada Said Ra yang isisnya melamar putrinya yang sudah cukup umur untuk dinikahi. Said Ra adalah seorang yang kayaraya dan bermartabat, tetapi Rasulullah Saw selalu berusaha menghilangkan sekat-sekat jahiliah seperti itu. Said merupakan gambaran orang yang mampu mengendalikan emosinya, dia tidak langsung mengatakan tidak atau mengiyakan lamaran itu walaupun dia tahu Zahid adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa. Lalu dipanggilah Zulfah putrinya untuk ditanyakan apakah dia setuju atau tidak. Ternyata Zulfah tidak setuju dan dia menangis karena dia tidak tahu kalau itu adalah perintah Rasulnya. Tapi setelah dia tahu bahwa ini perintah Rasul dia langsung menerimanya dan berkata, sungguh wahai ayah seorang mukminah apabila Allah dan RasulNya telah menetapkan sesuatu maka tidak ada kata lain bagi seorang mukminah kecuali dia akan berkata: "sami'na wa atho'na" (aku dengar dan aku taat). Aku terima dengan tangan terbuka kalau itu dari Rasul, meskipun untuk Zahid atau siapapun. Dia mengubur egoisme dirinya, mengubur kekecewaan dan ketidak sukaannya semata-mata untuk mencintai Allah dan Rasulnya. Ini adalah sesuatu yang berat tapi itulah kesolehan seorang mukminah. Dia mampu untuk menata emosinya dan itulah kecerdasan emosional yang di landasi iman.
Rasul mengajarkan sebuah do'a yang berkenaan dengan emosional yang di landasi iman :
"Ya Allah limpahkanlah kepada kami cinta dalam nuansa iman. Hiasilah hati kami dengan keimanan itu, berikan hati kami kebencian atas segala kekufuran kemungkaran dan maksiat. Dan jadikanlah kami hamba-hambamu yang cerdas".
Akhirnya Zahid kembali ke masjid dengan hati berbunga-bunga karena lamaranya diterima. Esok harinya ia bertemu dengan Rasul dan berkata: "Wahai Zahid kamu terlihat ceria dan bergembira, ada apa? Zahid menjawab: "Ya Rasulullah, lamaranku diterima tapi aku bingung bagaimana dengan walimahnya?". Rasul langsung tanggap dan mengerti akan kesulitan Zahid. Beliau memerintahkan untuk menemui Abu Bakar Ra, Utsman Ra dan Abdurrahman Ra dan berkata: "sampaikan salamku pada mereka". Setelah ketemu dengan mereka disampaikan salam Rasulullah kepada mereka, kemudian sahabat Abu Bakar, Utsman dan Abdurrahman bertanya: "ada yang lain?", maka Zahid pun berterus terang dengan kesulitannya. Mereka langsung merespon dan langsung mengeluarkan hartanya dengan ikhlas dan tidak merasa keberatan sedikitpun.
Akhirnya Zahid pulang dan langsung menuju pasar untuk membeli apa-apa yang diperlukan untuk walimah pernikahannya. Setelah kembali di mesjid, ternyata di masjid sudah penuh dengan orang-orang yang hendak menerima perintah jihad di jalan Allah. Zahid pun kembali ke pasar dan menjual kembali apa yang sudah dibelinya. Dia langsung membeli alat-alat perelengkapan perang dan langsung bergabung dengan para sahabat lainnya untuk menunaikan perintah jihad. Di medan jihad Zahid pun berpulang ke rahmatullah sebagai syuhada.
Zahid merupakan orang yang rela mengubur obsesinya untuk menikah dengan Zulfah dengan melewati berbagai proses yang telah melelahkan. Tetapi ketika datang kepadanya printah jihad dia langsung meresponnya dan melaksanakannya dengan sepenuh hati.
Karena itu Rasulullah Saw memberikan pidato khusus di depan sahabatnya yang lain. Sungguh berbahagia Zahid dan dia akan didampingi oleh bidadari syurga. Zulfah pun memberikan salam khusus untuknya dan berkata: "Sungguh berbahagialah Zahid, aku tidak bisa mendampinginya saat di dunia ini, Ya Allah aku mohon agar engkau berkenan untuk memberikan kesempatan bagiku untuk menerimanya di syurga". Inilah gambaran orang-orang yang mampu mengendalikan dan mecerdaskan emosinya, dan orang-orang yang setiap hari berinteraksi dengan Al-qur'an . Dan ingatlah perkataan Rasulullah Saw yaitu : "Al mu'min kayyisun wa fathinun" (Bahwa sesungguhnya mukmin adalah pintar dan cerdas). Wallahu A'lam.
Share READ MORE - MENINGKATKAN KUALITAS KECERDASAN EMOSI ( EMOTIONAL QUESTION )

Kamis, 14 April 2011

4 Kebahagiaan

Tidak ada yang kekal di dunia ini kecuali Allah SWT. Setiap yang hidup, yang diciptakan Allah SWT di dunia ini pasti akan mati. Demikian pula kehidupan manusia. Selalu silih berganti, sebagai bentuk ujian dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya. Sebagaimana difirmankan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ 35 berikut ini :

“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). dan Hanya kepada Kami-lah kamu dikembalikan”.

Ayat ini memberikan peringatan bahwa kehidupan manusia itu silih berganti antara kesusahan dan kebahagiaan, keburukan dan kebaikan. Ibarat roda, terus berputar, kadang di atas kadang pula di bawah. Kadang bahagia, kadang susah, keduanya selaluhadir silih berganti dalam kehidupan ini, meskipun dengan porsi yang berbeda. Ada orang yang mengalami kehidupan yang seimbang, setengah kesenangan dan setengah kesusahan. Ada pula orang yang merasa lebih banyak kebahagiaan dalam kehidupannya, namun ada pula yang mengalami kehidupan sebaliknya, merasa lebih banyak kesusahannya, sehingga kebahagiaan seperti menjauh dari kehidupannya.
Sejarah mencatat Kisah seorang Rasul utusan Allah yang mendapatkan porsi kesusahan yang cukup besar dalam hidupnya yakni Kisah Nabi Ayyub AS yang dikisahkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat Al-Anbiya’ 83 berikut ini :

“Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".
Yang kemudian, berkat kesabaran dan kegigihan dalam berikhtiar serta berdoa kepada Allah SWT, akhirnya Allah SWT menbalikkan semuanya dengan melenyapkan semua penyakitya, mengembalikan seluruh keluarganya dan melipatgandakan bilangan mereka. Sebagaimana disebut dalam ayat berikutnya yakni Surat Al-Anbiya’ 84 sebagai berikut :

“Maka Kami-pun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan Kami lipat gandakan bilangan mereka, sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah”.

Sekarang, bagaiman supaya porsi kebahagiaan lebih banyak daripada kesusahan? Padahal, tidak bisa tidak, kebahagiaan dan kesusahan mesti silih berganti? Untuk menjawab pertanyaan ini, sangat tepat kalau merujuk pada apa yang dikatakan oleh salah satu ulama besar bangsa ini yakni Prof. DR. Hamka yang menyebut adanya empat rukun kebahagiaan agar porsi kebahagiaan yang bersemayam dalam kehidupan manusia lebih banyak dirasakan daripada kesusahannya. Empat rukun kebahagiaan itu antara lain adalah :

A. SEHAT TUBUH/FISIK/JASMANI
Kesehatan adalah bagian terpenting dalam kehidupan manusia yang baru terasa saat mengalami sebaliknya yaitu ketika sakit. Karena tubuh yang sehat merupakan salah satu kunci dalam rangka memperoleh kebahagiaa. Dengan sehat jasmani, orang akan bisa melakukan apa saja yang diinginkan dan tidak dipusingkan dengan penyakit yang diidap, termasuk cara dan biaya pengobatannya, seperti yang dirasakan ketika sakit. Dalam hubungannya dengan kesehatan fisik atau jasmani, Rasulullah Muhammad SAW adalah sosok yang sangat pantas untuk dicontoh. Beliau adalah pribadi yang selalu tampil fit dan jarang sakit. Selama hidupnya, beliau hanya sakit dua kali, yaitu :
• Setelah menerima wahyu pertama, sakit demam hebat.
• Ketika beliau akan wafat.
Nah, apa resep beliau untuk selalu tampil fit dan jarang sakit? Resep beliau sagat mudah dan sangat Islami yang bisa dilakukan oleh siapapun, yaitu :
1. Selektif dalam memilih makanan
Beliau selalu menekankan pada prinsip halalan thoyyiban( ). Sebagaimana diperintahkan oleh Allah SWT dalam A-Qur’an Surat Al-Baqarah 168 yang menekankan pada pemilihan makananyang halal dan baik (bergizi).

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; Karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu”.

Pengertian halal di sini berkaitan erat dengan urusa akherat, baik dari segi wujud/dzat/materi dari makanan itu sendiri yag harus jelas kehalalannya maupun dari segi cara memperolehnya. Halini lebih mengarah kepada kebarokahan dari makanan tersebut. Karena definisi berkah adalah tumbuh dan tambah dalam kebaikan dan kebahagiaan ( )
Sedangkan thoyyib sangat erat kaitannya dengan urusan dunia yaitu menyangkut masih baik atau tidaknya, layak atau tidaknya maupun bergizi atau tidaknya makanan tersebut.
2. Makan sesudah lapar dan berhenti sebelum kenyang
Beliau tidak pernah makan sebelum merasa lapar dan selalu berhenti sebelum merasa kenyang. Terlalu kenyang tidak baik untuk tubuh, karena perut juga perlu ruang untukudara. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa perut itu terbagi menjadi tiga porsi isi perut,sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga udara.

3. Makan tidak tergesa-gesa
Sesuatu yang tergesa-gesa pasti tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Demikian pula dengan makan. Makan dengan tergesa-gesa bisa tersedak dan tidak memberi kesempatan pada organ pencerna, penggiling dan penghalus makanan melakukan tugasnya dengan sempurna, sehingga berakibat buruk bagi tubuh, terutama perut.Bahkan Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya bahwa tergesa-gesa itu bagian bgian dari perbuatan syaitan.
3. Tidur cepat dan bangun cepat
Beliau tidak terbiasa tidur larut untuk hal yang tidak bermanfaat (begadang) dan selalu bangun awal untuk melaksanakan sholat malam(tahajud). Bukan sebaliknya seperti kebiasaan orang-orang sekarang yang selalu tidur larut malam karena begadang dengan melakukan ha-hal yang kurang bermanfaat, sehigga bangunnya menjadi kesiangan, tidak bisa melakukan sholat malam (tahajud). Dan hal ini sangat berbahaya bagi tubuh, karena tubuh juga perlu istirahat. Karena Allah SWT menjadikan tidur di waktu malam sebagai sarana untuk beristirahat sedangkan siang untuk mencari nafkah (bekerja). Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an Surat A-Naba’ 9 -11 berikut ini :

9. dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat,
10. dan Kami jadikan malam sebagai pakaian[*],
11. dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,

[*] Malam itu disebut sebagai pakaian karena malam itu gelap menutupi jagat sebagai pakaian menutupi tubuh manusia.

4. Rajin berpuasa
Tidak dapat dipungkiri bahwa puasa adalah cara detoksifikasi (pembersihan racun dari tubuh) yang bersifat total dan menyeluruh, meliputi kegiatan fisik, emosi dan spiritual. Sehingga dengan berpuasa, justru badan menjadi sehat, karena memberi kesempatan bagi lambung untuk beristirahat. Oleh karena itu Rasulullah SAW menegaskan dalam sabdanya baba dengan berpuasa, badan menjjadi sehat.
Selain menjaga kesehatan fisik dan untuk mendukung kesehatan fisik itu pula, seseorang hendaknya menjauhi sifat hasad (dengki). Hamka mengatakan, dengan hasad, maka susahmu, miskinmu dan sakitmu akan berlipat.

B. SEHAT AKAL/PIKIRAN/INGATAN
Perjuangan hidup memang senantiasa menhendaki kepayahan atau kemaksimalan kerja dari akal. Oleh karena itu, akal akan cepat mengeluarkan pendapat, merespon realitas atau kenyataan dan melalu melihat ke belakang utuk menatap masa depan yang lebih baik harus selalu diasah. Sehingga menghadirkan kemenangan sekaligus kebahagiaan.Tuntutan untuk terus mengasah/memaksimalkan kerja otak, berpikir cerdas serta berpegang teguh pada prinsip kebenaran merupakan sebuah keniscayaan. Demikian pula sikap istiqomah, yang mendidik manusia untuk menjadi pribadi yang tidak mudah goyah selama berprinsip kepada kebenaran pasti akan mendatangkan kebahagiaan. Sebagaimana janji Allah SWT melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Fushilat 30 berikut ini :

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah" Kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, Maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: "Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu".


C. SEHAT JIWA/MENTAL/RUHANI
Ini merupakan perwujudan/manifestasi dari keimanan seorang hamba kepada Allah SWT. Sehat jiwa/mental/ruhani ini tidak akan berarti jika hanya dijadikan jargon saja, sehingga tidak memberikan efek nyata dalam kehidupan. Karena hal ini menyangkut kerja hati,keseimbangan antara hubungan dengan Allah SWT( ( dan hubungan dengan sesama manusia ( ).
Berkaitan dengan hal ini, sejak tahun 1959, WHO memberikan kriteria jiwa atau mental yang sehat dengan kriteria sebagai berikut :
1. Dapat menyesuaikan diri secara konstruktif pada kenyataan, meskipun kenyataan itu buruk baginya.
2. Memperoleh kepuasan dari hasil jerih payah usahanya.
3. Merasa lebih puas memberi daripada menerima.
4. Relatif bebas dari rasa tegang dan cemas.
5. Berhubungan dengan orang lain seccar tolong menolong dan saling memuaskan.
6. Menerima kekecewaan untuk dipakainya sebagai pelajaran dikemudian hari.
7. Mengalihkan rasa permusuhan kepada penyelesaian yang kreatif dan konstuktif.
8. Mempunyai rasa kasih sayang yang besar.
Pada tahun 1984 WHO menyempurnakan ciri-ciri di atas dengan menambahkan satu elemen sebagai syarat jiwa yang sehat yaitu dengan Spiritual (Agama). Dan jauh-jauh sebelumnyaAl-Qur’an dan Al-Hadis sudah banyak mengungkap ciri-ciri di atas melalui ayat-ayat-Nya maupun sabda Rasulullah SAW.

D. PERASAAN TELAH KAYA
Pepatah mengatakan bahwa kekayaan adala pada perasaan telah kaya.Bila seseorang telah merasa kaya, sepeserpun tak berarti kekayaan itu kalau belum untuk kemaslahatan umum, membelafakir miskin dan menyucikannya dengan dengan zakat, infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW dalam salah satu wasiatnya mendefinisikan kaya dan fakir dalam riwayat berikut :



“Dari Abu Dzar ra di berkata : Rasulullah SAW bersabda kepadaku : Hai Abu Dzar, tahukah kamu apakah banyak harta itu suatu kekayaan?
Aku menjawab : Benar hai Rasulullah.
Beliau bertanya lagi, Tahukah kamu apakah sedikit harta suatu kefakiran?
Aku menjawab : Benar hai Rasulullah
Beliau bersabda : Sesungguhnya kekayaan adalah kecukupan hati, dan kefakiran adalah fakirnya hati.

Barangsiapa kaya hatinya maka suatu dari hartanya tidak akan membahayakan bagi dirinya.
Dan barangsiapa merasa fakir hatinya, maka harta yang banyakpun tidak akan mencukupinya.
Akan tetapi justru membahayakan dirinya karena kikirnya.
(HR Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Agar seseorang bisa merasa kaya kuncinya ‘kaya hati’ dan resepnya adalah qana’ah (menerima dengan ikhlas terhadap apa yang telah Allah SWT berikan) dan syukur (berterima kasih kepada Allah SWT). Karena dengan syukur, seseorang akan lebih menikmati apa yang mereka punya, karenapada hakikatnya saat manusia lahir tidak membawa apa-apa dan akan kembali kepada Allah SWT tanpa membawa apa-apa pula kecuali amalnya. Dalam ayat yang sangat populer yaitu surat Ibrahim ayat 7 Allah SWT berfirman :

“Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (ah)
Share READ MORE - 4 Kebahagiaan

Jumat, 08 April 2011

KEHORMATAN ADALAH PENGORBANAN


Oleh : Azizah Herawati, S.Ag.*)

QS An-Nisa 86 :
 “ Dan apabila kamu dihormati dengan suatu (salam) penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (penghormatan itu, yang sepadan) dengannya. Sungguh, Allah memperhitungkan segala sesuatu”.
         Ayat di atas menyeru kita untuk membalas penghormatan dengan penghormatan yang lebih baik atau paling tidak yang sepadan. Coba kita ibaratkan saat kita diundang seseorang, pasti ada penyebabnya. Ada sebab, berarti pilihan, tidak mungkin karena ada ketidak sengajaan. Pilihan berarti sebuah kehormatan dan kehormatan adalah kerelaan berkorban untuk kembali menghormati yang mengundang. Jadi kehormatan bukanlah gagah-gagahan, tapi justru suatu bentuk ketulusan untuk memberikan yang terbaik bagi orang lain, sehingga menumbuhkan kegembiraan bagi yang menerimanya.
        Dewasa ini banyak orang menempatkan kehormatan hanya untuk ‘orang yang mempunyai jabatan’. Sehingga dengan ‘jabatannya’ jangankan menghormati dengan yang lebih, dengan yang sepadan aja enggan. Padahal di mata Allah, semua manusia adalah sama, yang membedakan adalah taqwanya. Sebagaimana penggalan Firman Allah SWT yang sudah sangat populer dalam QS Al-Hujurat 13 :
 “……..Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertaqwa ……..”.
          Sangat penting kiranya kita merenungkan bahwa saat orang mengagungkan jabatan sebagai kehormatan, belum tentu di mata Allah sama adanya. Bukankah salah satu biang krisis multi dimensi yang melanda negeri ini adalah karena ulah para pejabat yang ‘terhormat’!Mereka menggunakan ‘jabatannya’ untuk berperilaku ‘tidak terhormat’, sehingga apapun caranya yang penting ‘dapat’!
         Alangkah indahnya andaikata ‘orang-orang terhormat’ mau belajar untuk membalas penghormatan orang lain, minimal dengan yang sepadan, syukur bisa membalas dengan yang lebih! Dengan demikian orang lain akan dengan sendirinya hormat kepadanya tanpa ada tendensi apapun apalagi sekedar ABS alias Asal Bapak Senang.
      Sudah saatnya kita belajar ‘mengorbankan diri’ untuk semata-mata mencari ridho Allah SWT. Mengorbankan kepentingan diri yang hanya berorientasi pada hal-hal duniawiyah saja, sekedar untuk mendapatkan apa yang kita inginkan dengan mengesampingkan           ridho
Allah SWT. Mari kita belajar dari para pendahulu kita yang tidak mengagungkan ‘harta, jabatan dan keturunan’, tapi justru memandangnya sebagai sebuah ‘amanah’ yang harus dijaga dengan sebaik-baiknya, semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT. Justru dengan ‘ketawadhu’an’ mereka, namanya terkenang hingga kini dan ‘sangat terhormat’ di mata Allah SWT. Sehingga Allah SWT mengabadikannya dalam
Al-Qur’an Surat Al-Baqarah 207 :  
 “Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhoan Allah. Dan Allah Maha Penyantun kepada Hamba-hambaNya”.

Wallahu a’lamu bish-showwab.

*) PAF Kec. Bandongan.
Share READ MORE - KEHORMATAN ADALAH PENGORBANAN

FB